Thursday, August 25, 2011
Suatu hari, dikala hujan... Tommy sang kakak hendak pergi kuliah.
Tommy: "Pah, Tommy kuliah dulu ya!"
Papa: "Naik apa kamu, nak? Hati-hati hujan loh.."
Tommy: "Tenang aja, Pah.. Naik motor aja.."
Papa: "Eh.. Jangan!! Bawa mobil aja gih.."
Tommy: "Oh, beneran nih? Okay, berangkat ya Pah!"
Dari kejauhan, Wendy sang adik mendengar percakapan Ayah dan Kakaknya. Lalu dia berasumsi,
'Wah... Kalo ujan, gua melas-melasin aja nih! Pasti bisa bawa mobil! Sip!'
Keesokan harinya, dikala hujan... Emang lagi musim ujan.
Wendy: "Pah, wendy pergi ya!"
Papa: "Ya, hati-hati..."
Jir.. Kenapa giliran gue ga ditanya!? Mungkin gue harus mancing!
Wendy: "Wah.. Ujan nih, Pah! Giamana ya? Ntar sakit lagi..."
Papa: "Oh, iya ya.. Bentar bentar, jangan pergi dulu.."
Yessss!!!! Pasti gue diambilin kunci mobil!! Lalalalala.. Joget joget.
Papa: "Nih, ada jas ujan.. Pake yah.."
Wendy: (pingsan)
Mama yang baru saja pulang, berteriak dari kejauhan.
Mama: "Wen.. Mama udah beliin sesuatu buat kamu.."
Wendy: "Hah!? Apaan, Ma..?"
Mama: "Mama beli jazz buat kamu!"
'Hah? Mama beliin jazz buat gue!? Alhamdulillah ya Allah..'
You raise me up..... So i can stand on mountain.....
Tiba-tiba muncul Josh Groban dari belakang.
Wendy-pun menyambut Josh Groban dengan senyuman penuh rasa syukur.
Mama: "Tuh.. Mama udah beliin buat kamu.."
Wendy: "Serius, Ma!? Ya ampun, Ma.. Makasih banget.."
Mama: "Iya, nanti dipake ya.."
Wendy: "Oh ya iyalah, pasti!! Pasti Wendy pake tiap hari!"
Mama: "Eeeeh, jangan tiap hari! Kalo ujan aja!"
Wendy: "Iya deh gapapa, kalo ujan juga lebih berguna sih, Ma!"
Mama: "Iya.. Bener ya.."
Wendy: "Mana, Ma?"
Mama: "Tuh!"
Wendy: "Mana...?"
Mama: "Tuh, di atas motor.."
Wendy: "Hah?"
Sponsored by:
JAZZ UJAN.
Tuesday, August 10, 2010
Hari itu, saya sedang berjalan-jalan di sebuah Plaza. Sebenarnya saya tidak tau apa visi dan misi Plaza itu dibangun. Kenapa? Karena sepi sekali. Jika ada aturan 'ketika ada bunyi peluit, semua berkumpul', saya yakin jumlah yang berkumpul tidak akan lebih dari jemaah di mushola. Saya bahkan tidak mengerti mengapa itu disebut Plaza.
Ceritanya, saya yang sedang berada di lantai tiga, ingin turun ke lantai satu.
Diperjalanan saya menuju lift, ada seorang laki-laki didalamnya, berdiri, seperti sambil menahan tombol agar lift tetap terbuka.
"Lift?", dia bertanya sambil tersenyum.
"Eh, terima kasih", sayapun masuk ke dalam lift.
Dan.. Pintu lift menutup.
"Sendirian?", laki-laki itu bertanya lagi.
"Iya".
"Ngapain emang?"
"Liat-liat aja, emang lagi jalan-jalan disekitar sini"
"Oh.. Gue juga sih, cuma liat-liat aja"
Gue ngga nanya, monyet! Dalam hati saya...
"Oh, haha!", balas saya sedikit canggung.
Dan memang benar suasana ini sangat canggung. Sepasang lawan jenis berada di dalam lift, yang ada di Plaza sepi. Ahh!!! Cukup!!!
Halo? Kayaknya ngga gitu-gitu amat deh..
Oh, oke! Maaf kebawa suasana.
Sekitar beberapa menit diem-dieman dalam lift. Sembari berfikir, apakah saya harus keluar dan naik tangga saja sebelum diperkosa cowok asing di dalam lift? Atau saya tetap bertahan di lift dengan suasana canggung bersama cowok bertubuh ideal dengan potongan rambut spike seperti Ariel? Saya kebingungan.
Sampai akhirnya saya sadar...
"Eh, kok kita di lantai tiga aja ya?"
"Eeeeh, hahaha.. Lupa gue pencet... mau ke lantai berapa..? Hahaha.. Aduh.."
"HUAHAHHAHAA!"
Stop, stop.. Gue ngga mungkin ketawa kaya gini lah! Bisa mati di lift kita!
Saya menanggapinya dengan senyuman dan ketawa basa-basi, lalu menekan angka satu.
"Maaf ya lupa, aduh, keasyikan ngobrol sih", sahut laki-laki itu dengan muka memerah.
Rasanya pengen bilang; "Kamu lucu juga ya kalo mukanya lagi merah.. Cium aku dong! Mumpung di lift nih!"
Engga engga! Hush!
Sampai di lantai satu, kita berpisah. Saya harus turun dari lift.
"Duluan ya!"
"Yo..."
Lucu ya! Dia salah tingkah seperti cowok-cowok yang ada di FTV. Hahaha!
Alhamdulillah, saya bisa bertemu puasa lagi tahun ini.
Semoga bisa manunaikan ibadah ini dengan sebaik-baiknya ya.
Dan semoga dibulan yang suci ini, FPI tersadar dan segera membubarkan diri.
Amin.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim :)
Oh ya, mengenai sholat teraweh, ada info ngga masjid mana yang rakaatnya dikit dan imamnya geraknya cepet-cepet?
Becanda deng..
P.S: Kalo ada acara buka bersama yang gratis, dan membutuhkan cewek semok untuk menambah list undangan, bisa kirim email ke saya di tantyadaneswari@yahoo.com.
Friday, August 6, 2010
Just want to express myself (again, on the other site).
And just tried something new with typepad.
But, i admit that blogger is more friendly.
A Fancy Mess
Haven't been posting much.
Feel free to regret if you don't like.
Enjoy!
Monday, July 26, 2010
Sepuluh dari sepuluh teman saya, kaum perempuan, kerap mengeluh kalau pacarnya ga ada kabar. Termasuk saya.
Bukan apa-apa yah, kalian bayangin deh kalo orang pacaran memakai metode 'pacaran tanpa kabar'. Kan ga lucu, misalnya;
Setelah dua bulan tidak ada komunikasi, tiba-tiba...
Si Cowo SMS,
Si Cowo: "Hai? Masih inget aku ga?"
Si Cewe: "Siapa ya? HP baru ganti nih"
Atau...
Si Cowo: "Hai sayang, long time no talk"
Si Cewe: "Sayang!? Kamu masih hidup!? Aku kira udah mati ketabrak tronton!"
Atau...
Suatu hari, Si Cowo tiba-tiba mergokin Si Cewe jalan sama cowok lain,
Si Cowo: "Kamu Anita kan!?"
Si Cewe: "Eh, Bondan?"
Si Cowo: "Kamu kok jalan sama cowok lain!?"
Si Cewe: "Emm..."
Si Cowo: "DASAR PEREMPUAN JALANG! TUKANG SELINGKUH!"
Si Cewe: "EH SETAN! LO DUA BULAN GA ADA KABAR GILA!"
Terkadang, perselingkuhan tidak selalu salah si pelaku selingkuh. Tapi yang diselingkuhin harus sadar, kenapa saya diselingkuhin?
Atau bahkan ikutan reality show Termehek-Mehek,
"Mandala, tolong, pacar saya sudah lama menghilang..."
Lagian kan malu kalo ada temen yang nanya,
"Pacar lo kemana?
"Tau..."
"Lah? Kok tau?"
Terus lo mau jawab apa!?
"Tau deh, digondol wewe kali"
Gimana gak digondol wewe, orang ga ada kabar dan ga jelas.
Sebenernya yang kaya gini bukan untuk bikin kalian terpenjara kok. Sama seperti bentuk 'overprotective' antar pasangan. Ini cuma suatu bentuk upaya agar hubungan terselamatkan dari mara bahaya. Ngerti kan? Hanya saja caranya yang berbeda-beda dan butuh penyesuaian, tapi visi dan misinya sama kok. Mana ada orang pacaran tujuannya putus? :)
Dan delapan dari sepuluh teman saya, kaum perempuan, mengakui bahwa pacarnya menghabisi separuh hidupnya di tongkrongan.
Berbagai nama aneh tongkrongan; dari Warcing, Wargo, Cunglay, Cupatkai, apalah itu...
Bagi kaum pria yang begini, kalian tau ga?
Kami, selaku kaum wanita, rasanya ingin lapor ke PEMDA, bikin fitnah kalau tongkrongan kalian adalah lokasi penyebaran sabu-sabu, dengan maksut agar tongkrongan kalian dibubarkan.
Dan kalian akan kehilangan tempat nongkrong, dan itu artinya kalian akan kehilangan separuh hidup kalian, lalu kalian menjadi gila, dan kalian akan kembali kepada kita, mengemis cinta kita yang dahulu kalian sia-siakan, berlutut sambil meraung-raung, makan beling dan serangga, dan kalian akan menjadi milik kita selamanya!
Hahaha!
Ini sandiwara apa sih?
Intinya itu.
Kalau saya pribadi... Yah... Saya hanya menginginkan hubungan yang 'layak' lah... Demi kenyamanan dan keamanan hubungan juga kan... Nanti giliran galau, pusing sendiri... Cuma bisa nyalahin 'cewe ga ada yang bener! cowo buaya semua!'... Tapi giliran ada, disepelein... Gimana sih? Hahaha...
Sunday, July 25, 2010
Hai temen-temen, mau tau keseharian aku? Follow twitter aku yah @tyonx, yang beruntung akan aku follow back. Untuk RBT aku, bisa diliat di headline koran hari sabtu :)
Thursday, July 22, 2010
Kejam memang.
Seperti biasa, kisah nyata dan nama disamarkan.
Ngangau: "Kum, temenin gue ke mall yuk"
Kuma: "Ngapain?"
Ngangau: "Ketemu cewe gue"
Kuma: "Nanti gue jadi nyamuk ngga?"
Ngangau: "Engga bakal"
Dengan berat hati, Kuma mengantar Ngangau ke tempat tujuan bertemu pacar Ngangau dengan motor kesayangannya.
Sesampainya disana...
Jalan cerita menjadi berbeda. Pacar Ngangau mengajukan ajakan jenius, yaitu mengajak Ngangau ke rumahnya. Masa Ngangau nolak?
Ngangau: "Kum, ke rumah cewe gue aja yuk"
Kuma: "Ah elah, ngapain?"
Ngangau: "Ah udah, cewe gue ngajakin"
Kuma: "Nanti gue jadi nyamuk ngga?"
Ngangau: "Ngga bakal"
Ya ya ya, Kuma memang baik dan setia kawan, tapi baik sama bego bedanya tipis.
Ngangau: "Tunggu apa lagi lo? Udah jalan ke rumah cewe gue! Tau kan?"
Kuma: "Loh? Ngga bareng sama lo?"
Ngangau: "Cewe gue bawa mobil, gue naik mobil cewe gue"
Sabar ya, Kuma...
Sesampainya dirumah pacar Ngangau.
Ngangau: "Kuma, lo tunggu di depan aja ya, gue cuma bentar kok"
2 jam kemudian...
Kuma: "Ngau, ayo pulang"
Ngangau: "Bentar lagi"
1 jam kemudian...
Kuma: "Ngau, ayo pulang?"
Ngangau: "Bentar lagi, sabar sabar"
1 jam kemudian...
Kuma: "Ngau?"
Ngangau: "Kum, kayaknya gue nginep deh"
Kuma: (bunuh diri)
Kuma pulang dengan penuh penyesalan.
Keesokan harinya, pukul lima pagi, Ngangau menelpon Kuma.
Kuma: "Halo?"
Ngangau: "Kum, jemput gue dong"
Kuma: "Dimana?"
Ngangau: "Dirumah cewe gue"
Kuma: "Kok ga pulang sendiri"
Ngangau: "Aduh lo tau kan......"
Bla bla bla bla bacot.
Lagi lagi, Kuma memang baik dan setia kawan, tapi baik sama bego bedanya tipis.
Kumapun menjemput Kumau dari kediamannya di Rempoa ke kediaman pacar Ngangau di Kemanggisan.
Disinilah simbiosisnya.
Keesokan harinya, di siang tengah hari bolong terik, Ngangau yang sedang diperjalanan mendapat telepon dari Kuma.
Ngangau: "Halooooo?"
Kuma: "Dimana lo!?"
Ngangau: "Dijalan nih di Cipulir"
Kuma: "Jemput cewe gue dulu sana! Terus anterin ke rumah gue"
Ngangau: "Kuuum?"
Kuma: "Apa? Jemput sana!"
Ngangau: "Gue...."
Kuma: "Eits, inget kan kemarin apa yang telah lo perbuat terhadap gue?"
Ngangau: "....."
Yah, beginilah.. Hidup itu keras memang.. Kadang kita di atas, kadang di bawah..
Maraknya anak sepeda, mengingat susana kota yang hingar bingarnya tidak bisa ditolerir lagi, seorang pemuda, Ricardo, tergerak untuk menjadi anak sepeda.
Tapi, apa daya...
Wirawan: "Eh, liat tuh si Ricardo! Sekarang bawa sepeda ontel!"
Wirawan berbicara kepada Aldi, menunjuk ke arah Ricardo dari kejauhan, tampak depan, menggenjot sepeda ontelnya.
Aldi: "Wih! Mantep! Gayanya juga asik ya!"
Aldi mengagumi Ricardo yang sedang menggenjot sepeda ontel, dari kejauhan, dan tampak dari depan.
Wirawan: "Emang asik deh nih si Ricardo"
Aldi: "Iya, padahal dulu dia ngga gitu ya"
Ricardo yang sedang menggenjot sepeda, kini tidak lagi dikejauhan, semakin lama semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat lagi.
Ricardo dan sepeda ontelnya menuju ke arah wirawan dan Aldi.
Dan pada saat berpapasan, Ricardo hanya melambaikan tangan dan melewatinya begitu saja.
Sambil melambaikan tangan,
Ricardo: "Oy! Duluan ya!"
Dilanjutkan dengan bell khas sepeda ontel.
'Kring... Kring...'
Dan begitu Ricardo melewati Wirawan dan Aldi...
Wirawan: "ANJING BELAKANG SEPEDANYA ADA GEROBAK SOMAY"
Aldi: "WAH SETAN, DAGANG SOMAY DIA SEKARANG"
Ricardo: "Sioooomaaaay... Siomaaaaaay..."
Kring... Kring...
Bento, mahasiswa akuntansi universitas swasta ternama, 19 tahun.
Bento yang sedang tidur. Telepon genggamnya berdering.
Bento: "Halo?"
Telepon: "Sayang, bangun dong"
Oh, ternyata itu pacarnya Bento..
Bento: "Hmmmm?"
Pacar: "Bangun dong sayang, kamu kan pagi ini ada UAS"
Bento: "Iyeeee"
Pacar: "Bangun ya, sana mandi"
Bento: "Hmmmm"
Pacar: "Ya udah, aku udah bangunin ya"
Bento: "Hmmmm"
Pacar: "Bangun ya, sayang. Daaa"
Tut.. Tut.. Tut..
Bento tidur lagi.
Sepuluh menit kemudian...
Telepon kembali berdering.
Bento: "Apaan sih?"
Telepon: "Bento, bangun doooong"
Bento: "Siapa nih?"
Telepon: "Vita..."
Ternyata ini telepon dari wanita yang menjadi kasih tak sampai Bento, jauh lebih cantik dan lebih baik dari pacarnya.
Bento mendadak melek. Kaya baru ketembak rudal dibagian punggungnya.
Bento: "Eeeh.. Vita.. Iya nih vit.."
Vita: "Bangun ya, lo kan UAS pagi ini"
Bento: "Iya, Vit.. Untung lo ingetin"
Vita: "Iya, masih pagi loh. Sana belajar dikit-dikit, masih keburu kok"
Bento: "Iya deh.. Makasih ya dibangunin"
Vita: "Sama-sama"
Bento bergegas mandi.
Kebayang kalo semua laki-laki kaya gini.
Dasar buaya!
Kisah dua sahabat, Made dan Afdal.
Afdal: "Made, nanti pas dijalan pulang, kita sama-sama terus ya"
Made: "Maksutnya?"
Afdal: "Iya, motor kita iring-iringan dan kita saling tunggu-tungguan"
Made: "Kenapa gitu?"
Afdal: "Banyak razia. Jadi kalo salah satu dari kita ditangkep, satu harus ketangkep. Yah?"
Made: "Oke..."
Tunggu. Ini sahabat apa homo sih?
Yah, pilihan hidup mereka lah itu.
Lanjut.
Diperjalanan...
Made merasa ada yang mengganjal dimotornya. Motornya mendadak goyang-goyang sendiri seperti Anisa Bahar.
Sambil mengemudikan motor di jalan raya, Made berteriak memanggil Afdal.
Made: "Afdal! Kenapa nih motor gue!"
Afdal: "Hah?"
Disinilah kenaasan terjadi. Ternyata, motor Made bannya bocor.
Made: "Afdal! Ban gue bocor!"
Afdal: (pura-pura tidak mendengar)
Made: "Afdal!"
Afdal: "(masih pura-pura tidak mendengar)
Made: "Afdal!"
Afdal: (melirik ke arah made dengan tatapan sinis)
Made: (berteriak memanggil Afdal dengan mimik butuh pertolongan)
Afdal: (ngegas motor, ngeeeeng!!!)
Made: (semangat hidupnya patah)
Dan...
Gerimis pun turun...
Made: "ANJING.. GIMANA NIH!? AFDAL UDAH NGGA KELIATAN LAGI MOTORNYA"
Afdal: (sudah jauh entah dimana, seperti tidak terjadi apa-apa)
Made melihat ada sinar lampu petromax, dan sebuah mesin besar (yang terlihat seperti rongsokan besi). Ah, ternyata itu tukang tambal ban..!
Made berteriak ke arah seorang abang-abang yang ada dibawah sinar lampu petromax itu.
Made: "Baaaang!"
Abang: "Haaaah?"
Seperti menang lotre, Made dengan tenaganya mendorong motor untuk sampai ke tukang tambal ban itu.
Sesampainya di tukang tambal ban itu. (setelah sekuat tenaga mendorong motor disertai basahan gerimis nakal)
Made: "Masih buka ga bang?"
Abang: "Oh.. Udah tutup.."
Made: (tewas seketika)
Setelah menempuh kurang lebih beratus-ratus kilometer, Made menemukan tukang tambal ban yang sesungguhnya.
Saat itu juga, telepon genggamnya berdering.
Oh, ternyata si Afdal nelpon..
Made: "Halo?"
Afdal: "Lo ngga apa-apa?"
Made: "Ngga"
Afdal: "Bisa pulang?"
Made: "Bisa"
Afdal: "Ada duit?"
Made: "Ada"
Afdal: "Kena razia?"
Made: "Engga"
Afdal: "Eh, sorry ya tadi gue...."
Tut.. Tut.. Tut..
Made emosi dan berencana melakukan pembunuhan berencana kepada Afdal.
TAMAT
Tiga sekawan berkelana ke sebuah cafe, diantaranya Leo, Wendy, dan Kopat. Di cafe itu, mereka bertemu kawannya yang cantik sekali (ini bagian gua, jadi cantik), yaitu Tantya. Prikitiiiiw...
Dimeja yang berbeda, Tantya yang sedang bersama teman-temannya, menyambangi meja tiga sekawan itu, sendirian.
Layaknya anak gaul...
Tantya: "Woooooi"
3 sekawan: "Woi sooob!"
Dilanjutkan dengan tos-tos ala anak gaul metroseksual jaman sekarang.
YA ENGGALAH. SOK ASIK ABIS.
Wendy: "Sama siapa lo?"
Tantya: "Tuh, ada temen gue..."
Leo: "Wah, cewe..?"
Tantya: "Iye.."
Wendy: "Wah, mantep tuh.."
Tantya: "Tuh, mau gue kenalin?"
Leo: "Liat dulu, cakep kaga?"
Tantya: "Yah itu, liat aja sendiri"
Wendy: "Pat, cek sana! Cakep ngga!"
Kopat: "Tuh kan.. Giliran ngecek gue.. Ntar kalo jelek gimana?"
Wendy: "Yah, urusan lu.. Justru itu.. Lo jadi tumbal.."
Leo: "Nah, udah sana cek!"
Wendy: "Kalo cakep, lo balik lagi kesini, bilang ke kita. Kalo jelek, nah.. Lu urusin sana sendiri!"
Kopat: "Tuh kan.. Giliran jelek bagian gue.. Gue mulu tumbalnya.. Mentang-mentang gue ga punya duit.."
Oh, jadi cowo tuh gitu ya.. Apakah dipertemanan kalian juga memiliki tumbal semacam ini? Dasar penjahat..
Tuesday, July 6, 2010
Memasuki era globalisasi, kecanggihan teknologi semakin membabi buta. Dan orang-orang seperti saya kewalahan untuk beradaptasi dengan kemodernan semacam itu.
Alat komunikasi yang disebut dengan 'BB' menghujam halayak ramai. Seperti penyedap rasa merk baru yang dalam waktu singkat berhasil digandrungi ibu-ibu rumah tangga yang meyakini bahwa masakan mereka seakan gempar gembira dengan kehadiran penyedap tersebut.
Jika belum ada alat komunikasi yang sanggup menyaingi BB dalam 3 tahun ke depan, bisa saya tebak, mungkin silsilah pengisian riwayat hidup sudah bukan lagi seperti ini;
Nama:
Tempat, tanggal lahir:
Alamat:
No. Telp:
Melainkan;
Nama:
Tempat, tanggal lahir:
Alamat:
Pin BB:
Kerap saya juga melihat anak-anak hiperaktif, seperti balita atau anak usia tanggung diatas lima tahun, yang sedang mengacak-acak barang-barang pertokoan yang membuat risih para pengunjung dan membuat jidat para karyawan toko mengkerut. Ibunya hanya memberi peringatan dengan suara melengking, tapi acuh:
"Hey.. Hey.. Dimas.. Dimas.. Jangan gitu, nak.."
Dengan kedua mata sang ibu yang tidak lepas dari layar BB, dan jari-jari sang ibu yang sibuk memijat tombol-tombol qwerty mungil.
Bayangkan jika dalam tiap satu kelurahan ada 15 toko yang diacak-acak anak-anak hiperaktir setiap harinya, dan 10 diantara ibu mereka seperti ini.
Saya bukan salah satu ekstrimis anti BB atau sejenisnya. Hanya kebetulan saja saya bukan pengguna BB, dan maraknya BB membuat saya tertarik menjadikannya sebuah topik di blog ini.
Kalau yang sedang marak adalah sebuah robot pemuas sex bernama 'Tongtong', mungkin itu yang akan saya jadikan topik.
Ha ha ha.
Beberapa hari ini saya disibuki dengan kegiatan-kegiatan kurang menyenangkan dan mau tidak mau harus berkerjasama dengan tokoh masyarakat yang sedikit pemalas.
Kecerobohan saya menyebabkan saya harus kehilangan dompet yang berisi uang tunai yang nominalnya cukup untuk membayar uang muka cicilan handphone. Saya juga kehilangan KTP, kartu ATM, kartu Ujian Saringan Masuk suatu universitas yang nantinya harus dipergunakan untuk daftar ulang, dan semua koleksi pas foto saya. Saya punya kebiasaan aneh mengumpulkan pas foto orang-orang.
Makanya akhir-akhir ini saya disibuki kegiatan 'sial' dan terpaksa bekerja sama dengan tokoh masyarakat yang sedikit kurang rajin.
Contoh; polisi-polisi gaji buta yang menyukai kolusi, saya membutuhkan mereka untuk membuat laporan kehilangan. Ketua RT kecamatan daerah saya yang selalu mengangkat telepon saya dengan suara seperti kondisi orang bangun tidur, ayah saya juga yakin pasti dia baru bangun tidur, saya membutuhkannya untuk membuat KTP baru. Belum lagi orang-orang kelurahan yang pelayanan jasanya tidak seperti yang kita harapkan.
Saya menjadi erat dengan pengisian biodata.
Lebih dari 5 kali saya mengulang nama saya sendiri, lebih dari 5 kali mendengar orang-orang melafalkan nama saya dengan terbata-bata, lebih dari 2 kali ke kantor polisi terdekat dan menjumpai mereka sedang duduk menghisap rokok.
Ada satu yang saya suka. Polisi tua dengan batu cincin ala Tesi di jarinya, mengetik sambil menanyakan data-data saya, suara dan cara berbicaranya khas seorang kakek dari Jawa, dan menolak pemberian upah di akhir. Waw, ini baru polisi! :)
Tapi masih untung saya hanya memergoki mereka duduk di dalam ruangan ber-AC dan menghisap rokok. Coba jika saya memergoki mereka duduk dengan tangan kiri mempertahankan rokok menyala dan tangan kanan megang BB.. Habis sudah riwayatku, Pak polisi..
Keeratan saya dengan pengisian biodata akhir-akhir ini menginspirasikan saya tentang 'Bagaimana jika sampai 3 tahun kedepan belum juga ada yang menyaingi alat komunikasi canggih ini dan pin bb akan dipertanyakan dalam pengisian riwayat hidup atau biodata atau semacamnya?'
Memang tidak mungkin dan tidak masuk akal.
Ini hanya khayalan anak muda yang baru saja kehilangan dompet.
Saturday, July 3, 2010
A newcomer in my life. Named Jon, position as boyfriend.
I didn't choose him to be mine, he didn't choose me to be his.
Love chose us.
This love is lovely for sure, but not always.
But this is how love works.
Happiness, sadness, laugh, tears.
We both have bad love stories before. And yes, doubts still haunting.
Believe in the beauty of love, is fun.
But realizing what you believe is bullshit, is sucks.
And making someone to be your everything isn't a good idea if you don't wanna lose everything when that 'someone' is gone.
So, what are we doing now then?
If it goes like this,
can our love grow any deeper, J?
Hugs, kisses.
Wednesday, June 23, 2010
Saturday, June 19, 2010
Kopi: "Woy, Belanda lawan Jepang yok! Taruhan sama gua!"
Wenz: "Ayo dah! Pur berapa!?"
Kopi: "Ngga usah pake pur-puran! Yang menang aja deh!"
Wenz: "Ayo dah! Gue Belanda!"
Kopi: "Ayo! Gue Jepang!"
Wenz: "Ceban! Deal!?"
Kopi: "Yah! Ngga main gue ceban!"
Wenz: "Yah, ngga ada duit.. Ya udah deh ngga usah"
Dongki: "Ya udah ayo deh sama gue! Gue Belanda! Gocap!"
Kopi: "Ahh! Ngga main gue gocap!"
Dongki: "Ya udah! Lo maunya berapa!?"
Kopi: "Goceng"
Nah! Lu makan deh tuh judi bola cuma goceng!
Untuk orang-orang yang mengalami tekanan ekonomi, seperti saya, kenaikan harga barang sama dengan pembunuhan secara perlahan.
Nah, salah satu orang yang seperti saya adalah Made.
Contoh kasus:
Made: "Mbak, rokok 3 batang berapa?"
Mbak warung: "Tiga ribu"
Made: "Dua?"
Mbak warung: "Dua ribu"
Made: "Beli satu aja, mbak"
Apa namanya kalau bukan membunuh secara perlahan? Hah? Menikam dari belakang? Menendang dari samping? Memancing di air keruh? Menyamarkan bekas jerawat!? Apa namanya!? Apa!?
Wednesday, June 16, 2010
Sebenarnya hanya hal biasa.
"...Girl just take off yo socks Let me lick on yo feet
I’ll rub yo body & watch you roll yo eyes to the ceiling..."
Ringtone handphone saya; Honeymoon Day - Arrested Development
T: "Halo?"
W: "Ty?"
T: "Eh, halo!"
W: "Di rumah?"
T: "Iya! Jalan-jalan yuk!"
W: "Oke, gue jemput sekarang ya"
T: "Emang lo ngga kuliah?"
W: "Mmm.."
Dengan suara berbisik,
W: "Jangan dibahas disini, ada emak gue.."
Kembali ke suara normal,
W: "Kuliah kok jam 3!"
T: "Hahaha!"
W: "Oke, tunggu ya! Gue.. Emm.. Gue.. Sms lo!"
Dan dalam hal ini, makna kata 'sms' harus berubah menjadi 'jemput' karena si W takut ketauan bolos kuliah oleh Ibunya.
Hal biasa kan?
Tapi, memangnya salah kalau menaruh perhatian pada hal yang 'biasa'?
Ha ha ha.
Tuesday, June 15, 2010
Wendy, salah satu anjelo setia saya.
Suatu hari, saya ada sesi pemotretan untuk buku tahunan. Saya malas bukan kepayang, karena lokasi pemotretannya di Taman Menteng. Sementara saat itu, saya sedang berada di toko kelontong modern bernama Boxmart di bilangan Kemang.
Saat itu saya bersama dua tahanan polres atas kasus pemerkosaan balita, Wendy dan Leo.
Bukan bukan, yang soal tahanan polres cuma bercanda..
Tantya: "Wen, gue malem ini ada foto buku tahunan, tapi males banget"
Wendy: "Ih, kenapa!?"
Tantya: "Di Menteng, jauh, kesana sama siapa?"
Sedikit memasang mimik melas, supaya mendengar jawaban "Nanti gue anterin kok, Ty".
Wendy: "Ya udah deh, nanti gue anterin.. Jangan ngga ikut foto dong, parah lo!"
Leo: "Ya udah, sekalian jalan-jalan"
Yes! Modus mimik muka melas berhasil.
Telepon genggam saya berdering. Ternyata telepon dari teman sekelas. Menanyakan masalah foto buku tahunan.
Tantya: "Halo?"
Teman sekelas: "Dimana lo!? Lo ikut foto kan!?"
Saya gugup sekali. Sebenarnya pemotretan sebentar lagi akan dimulai, sementara saya masih di toko kelontong modern sedang tertawa-tertawa bersama dua tahanan mabes polri.
Tantya: "Ehh, iya iya, ikut.. Tapi sabar ya?"
Teman sekelas: "Emang lo dimana?"
Tantya: "Ehh, di.. Jalan.. Mau.. Pulang.."
Saya benar-benar gugup. Apa kata mereka kalau mereka tau yang sebenarnya!? HAH!? APA!?
Teman sekelas: "Yah, lo buruan dong!"
Aha! Saya punya ide bagus! Pakai lagi modus melas, agar orang merasa iba dengan kita!
Tantya: "Emm, iya iya.. Gue kesana sebentar lagi.. Emm, gue nanti cari kendaraan dulu.."
Sok melas cari kendaraan.
Teman sekelas: "Yah.. Lo naik apa??"
Yes, berhasil lagi! Dia mulai iba!
Tantya: "Kayanya nanti naik ojek langganan gue.."
Sementara itu,
Wendy: "ANJING LO! OJEK LANGGANAN!?"
Leo: "HAHAHAHAHA"
Mampus, salah ngomong.
Tantya: "Eh, sssst! Diem dulu, Wen!"
Wendy: "Sakit hati gue.. Ojek langganan.."
Saya masih berbicara pada telepon.
Tantya: "Iya iya, nanti ojeknya gue suruh cepet yah.. Thanks! Dada!"
End call.
Wendy: "Anjing.."
Tantya: "Sorry, Wen.. Ngga maksut.. Yah, maap yah.. Yah, lu tau lah.."
Wendy: "Yo, sakit yo.."
Leo: "Hahahahaha ojeeeek..."
Menurut pengakuan Wendy. Ini bukan pertama kalinya dia disebut 'ojek'.
Kasus lain. Dia pernah disebut 'ojek' oleh saudara kandungnya sendiri, alias abangnya.
Abang Wendy: "Wen, anterin gue ke ulang tahun temen gue dong!"
Wendy: "Dapet makan ye?"
Abang Wendy: "Dapet.."
Diperjalanan. Sama seperti saya, abangnya diteror penelepon-penelepon tidak sabaran.
Abang Wendy: "Halo? Iya iya! Ini gue bentar lagi sampe! Iya sabar! Ini ojek gue suruh ngebut!"
Wendy: "ANJING!"
P.S: Sabar ya. Orang-orang yang sabar pasti masuk surga.
